Transportasi massa di Kota Samarinda sangat mendesak direalisasikan untuk mengatasi pertumbuhan kendaraan pribadi yang hampir menyamai jumlah penduduk, memecah titik kemacetan, dan mendukung peran strategis kota sebagai penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN). Kota samarinda dengan jumlah penduduk yang mendekati hampir 1 jt orang akan bertransformasi menjadi Kota Metropolitan. Sebagai ibukota Provinsi, Samarinda belum memiliki moda transportasi massa yang handal dan mampu memberikan pelayanan bagi masyarakat Kota Samarinda. Berikut urgensi terhadap kebutuhan transportasi massa di Kota Samarinda.
A. Pendahuluan
Kota Samarinda, sebagai ibu kota Provinsi Kalimantan Timur dan pusat kegiatan ekonomi, menghadapi tantangan mobilitas yang masif. Dengan populasi lebih dari 830 ribu jiwa, jumlah kendaraan bermotor yang beredar saat ini tercatat sudah hampir menyamai jumlah penduduknya.
Ketergantungan yang tinggi pada kendaraan pribadi memicu berbagai masalah perkotaan, seperti kemacetan di kawasan niaga, keterbatasan lahan parkir, peningkatan emisi karbon, dan penurunan efisiensi ekonomi akibat terbuangnya waktu di jalan.
B. Faktor Pendorong
UrgensiPertumbuhan Kendaraan yang EksponensialJumlah kendaraan roda dua dan roda empat di Samarinda terus melonjak, sementara kapasitas atau penambahan ruas jalan perkotaan sangat terbatas. Jika mobilitas warga tidak dialihkan ke angkutan umum, jalanan utama kota dipastikan akan mengalami stagnasi total.
Kondisi Angkutan Umum Eksisting yang MenurunMinat masyarakat terhadap Angkutan Kota (angkot) konvensional terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Hal ini disebabkan oleh kualitas pelayanan, ketidakpastian jadwal, dan kenyamanan yang belum memadai.
Persiapan sebagai Kota Penyangga IKNSebagai pusat kegiatan wilayah yang menopang IKN, Samarinda membutuhkan sistem mobilitas yang terintegrasi, cepat, dan modern. Transportasi massal diperlukan untuk menciptakan konektivitas yang lancar bagi warga, pekerja, dan pelajar.
C. Solusi dan Arah KebijakanPemerintah Kota (Pemkot) bersama DPRD Samarinda telah menjadikan penyediaan transportasi massal sebagai program prioritas. Beberapa langkah strategis yang didorong antara lain:
1. Pengembangan BRT (Bus Rapid Transit):
Pemkot tengah merancang sistem Bus Rapid Transit (BRT) yang dipersiapkan untuk beroperasi dengan skema Buy the Service (BTS). Dalam sistem ini, pemerintah membeli layanan dari operator agar tarif tetap terjangkau dan jadwal operasional lebih terprediksi.
2. Integrasi Moda (Feeder):
Angkot konvensional yang ada akan direstrukturisasi (re-routing) untuk berfungsi sebagai angkutan pengumpan (feeder) yang menjangkau area permukiman warga menuju koridor utama BRT.
3. Dukungan Fasilitas Pendukung:
Pembangunan infrastruktur penunjang seperti halte yang ramah lingkungan, jalur khusus, serta fasilitas pejalan kaki yang inklusif sangat diperlukan untuk menarik minat masyarakat.
D. Kesimpulan
Pengadaan transportasi massal di Kota Samarinda bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah kebutuhan dasar dan layanan publik yang wajib dipenuhi pemerintah. Kehadiran moda transportasi massal yang terintegrasi akan mengurangi kemacetan, menekan polusi, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui biaya transportasi yang lebih efisien.
(Dr. Ir. Tukimun, ST, MT)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar